Bagaimana pemuda adat membangun hubungan dengan alam di Hari Lingkungan Hidup

Juni 4, 2017

Languages:

Hari Lingkungan Hidup Dunia diakui PBB sebagai hari untuk merayakan alam, berkembang dari tahun ke tahun dan diperingati di lebih dari 100 negara.

Tema Hari Lingkungan Hidup Dunia kali ini adalah ‘Terhubung dengan Alam’, kami kemudian meminta pemimpin gerakan pemuda adat untuk berbagi pada dunia tentang bagaimana mereka membangun hubungan dengan alam.

Bekerjasama dengan Stand 4 Trees – baca sumber artikel yang diambil dari situs web Global Citizen disini.

Keterikatan Kita dengan Hutan oleh  Mark Rivas, masyarakat Miskitu, Nikaragua

Hutan kita merupakan situs suci bagi kita, tempat jiwa alam dan roh nenek moyang kita hidup. Hutan merupakan tempat semua kebutuhan kita tersedia, mulai dari hewan buruan dan tumbuhan yang bisa dimakanan.

Hutan menawarkan kita kedamaian, menghubungkan kita dengan jiwa dan alam, tempat terbaik untuk melakukan introspeksi diri dan mimpi. Hutan memberikan kita perlindungan dan makanan, seperti saudara kandung yang lebih tua bagi kita. Hutan menjauhkan kita dari kesenjangan dunia, ketika kita berada di hutan kita belajar mengenai siapa diri kita sesungguhnya dan bahwa kita semua adalah sama.

Menghabiskan satu hari di hutan seperti menghabiskan satu hari di surga, tidak ada yang lebih penting daripada diri kita sendiri dan hubungan kita dengan alam. Hutan mengajarkan bahwa kita penting dan kita ada.

Tanpa hutan kita, kita akan lebih dari sekedar kehilangan pohon, tumbuhan, hewan, kita akan kehilangan ikatan batin kita, kita akan kehilangan kedamaian, perlindungan, dan identitas kita.

Pesan saya bagi semua orang yang tidak tinggal dekat dengan hutan, ingatlah bahwa kami ada, masyarakat yang bergantung pada hutan dan hidup berdampingan dengan alam; teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan tidak penting bagi kami, hutan kami yang penting, dan kami percaya bahwa dari hutan kami, planet kita bernafas dan mendapatkan oksigen. Kami mengajak kalian semua untuk berjuang bersama kami, peduli dan menjaga tempat suci kami, paru-paru kami, hutan kita.

Apa arti hutan untukmu? oleh Yuam Pravia, Masyarakat Miskitu, Honduras

Hutan di sekitar saya merupakan ruang untuk membangun ikatan dengan alam dan menjadi ciptaan sempurna yang diciptakan Tuhan di sekitar kita. Hutan mewakili kedamaian, cerminan diri, relaksasi dan kebijaksanaan dari luar.

Menghabiskan waktu di hutan adalah saat yang luar biasa bagi saya, memungkinkan kita memahami kebebasan yang alam berikan pada kita, menikmati udara bersih, nyanyian burung, angin sepoi-sepoi dan segala hal yang melengkapinya, selain itu ibu bumi juga menawarkan kepada kita berada di dalam hutan yang dapat menyucikan tubuh kita.

Pesan saya kepada para pemuda yang tidak tinggal di dekat hutan, bahwa hutan adalah KEHIDUPAN, hutan adalah PARU-PARU. Menurut saya kita harus belajar mencintai dan menghargai setiap waktu, ketika kita bisa menghubungkan diri kita dengan keindahan alam yang ditawarkan hutan yang sudah diberikan pencipta kepada kita, dan menjadi bagian dari hidup kita.

JIKA KITA MENCINTAI DIRI KITA, MARI KITA CINTAI JUGA HUTAN KITA…KARENA MEREKA ADALAH SEGALANYA.

Burhanudin dari Sinjay, Sulawesi Selatan, Indonesia

Apa arti hutan atau hutan adat untuk kamu?
Menurut saya hutan adat adalah aset terbesar yang mutlak harus dijaga demi keberlangsungan hidup yang berkelanjutan. Karena hutan selain penyangga, menjaga sumber mata air, juga menetralisir pemanasan global.

Apa pesan yang mau kamu sampaikan kepada generasi muda yang tinggal jauh dari hutan?
Saya menitipkan pesan kepada orang-orang yang tinggal jauh dari hutan (kota) agar membantu masyarakat pesisir hutan dalam mempertahankan ekosistem lingkungannya. Sebab tanpa hutan, masyarakat kota ataupun semua orang akan kehilangan masa depan.  Olehnya itu, saya harap semua orang sadar akan pentingnya menjaga hutan.

Apakah kamu pernah/sering meluangkan waktu di hutan? Jika iya, apa yang biasa kamu lakukan? Bagaimana hutan memberi manfaat untuk kamu?
Bila bepetualang ke tengah hutan, saya kadang sama teman. Dan selalu berbuat sesuatu untuk mempertahankan hutan dengan menanam pohon. Saya juga sering mendirikan tenda untuk berkemah sambil menikmati indahnya pemandangan alam terbuka dengan penuh kesegaran. Selain itu, menurut saya hutan sangat memberi manfaat, baik secara langsung maupun manfaat secara tidak langsung. Seperti keindahan, kesegaran udara, kesejukan lingkungan dan berbagai manfaat lainnya. Karena hutan juga adalah tempat berbagai satwa liar, dari hutan juga mata air tercipta untuk persawahan dan sebagai sumber kehidupan untuk generasi pelanjut.

Baca lebih lanjut artikel mengenai Burhanudin disini.

Larry Salomon Pedro (Asangpas Kíamak), Mayangna, Nikaragua

Apa arti hutan di sekitarmu untukmu?
“Hutan, bumi, sungai dan hewan yang hidup di hutan, mereka adalah warisan kita yang diwariskan dari nenek moyang kita, oleh karena itu kita memiliki kewajiban untuk menjaga mereka tetap hidup selamanya. Berbagai unsur alam ini merupakan sumber kehidupan penting bagi masyarakat. Terima kasih atas berkat sumber daya yang diberikan bumi hingga kita bisa hidup dan memberikan kehidupan di dunia ini. Hutan adalah rumah saya, tempat saya menghabiskan sebagian besar hidup saya, hutan saya mengenali saya dan saya tau itu, kami menjadi sahabat baik. Saya tau ke mana tempat untuk berjalan-jalan, aneka jenis burung-burung, dan hewan ada di sana, hadir dimanapun saya berada, saya melaluinya dan tidak ada yang terjadi pada diri saya, selain ruang yang sehat. Hutan saya tidak ternilai harganya, karena hutan saya lebih dari sekedar materi, namun memiliki bagian spiritual, budaya dan antropologis yang tidak dapat dinilai dengan uang.

Saya mengambil kesempatan ini untuk mengutip definisi dari masyarakat mengenai konsep wilayah adat:
“Wilayah adat: SUMU SAUNI adalah mahluk hidup yang hebat, Di mana nenek moyang kita telah berjalan, meninggalkan jejak kaki yang bisa kita lihat hingga saat ini. Wilayah kita adalah tempat hewan-hewan itu berjalan, udara di mana burung-burung terbang, inilah perairan tempat ikan berenang, bumi tempat tanaman tumbuh, inilah tempat di mana kita mendapatkan makanan dan obat-obatan. Wilayah ini juga merupakan tempat kita memiliki kekayaan kita dan tempat hidup makhluk yang hanya dimengerti dan pernah dilihat keberadaanya oleh orang Mayangna.” (Life Plan Awastingni, 2009)

“Bagaimana kamu menghabiskan waktu di hutan, ceritakan bagaimana hari-hari biasa di hutan sekitarmu”

“Datang hujan, datang matahari, saya harus menghabiskan hari saya di hutan, baik matahari maupun hujan tidak membuat saya menyerah, karena hutan melindungi saya dan membuat saya terpesona, hutan tidak membiarkan hujan dan matahari langsung berdampak pada saya. Saya menghabiskan hari saya mengumpulkan makanan sehari-hari, saya menemukan obat penyembuh di hutan, saya tidak bisa menemukan tempat lain yang bisa membuat hidup saya bahagia, surga saya adalah hutan saya, saya menemukan makanan yang membuat saya tumbuh besar, setiap pagi dan sore saya mandi di tempat yang membebaskan navigasi saya. Saya melihat ikan berenang, saya melihat burung terbang di udara, saya menikmati malam yang segar, ketika kota-kota membutuhkan pendingin ruangan, saya tidak, karena hutan saya sudah cukup memberikan kebutuhan tersebut.

Apa pesan yang ingin disampaikan kepada para pemuda yang tidak hidup dekat dengan hutan?

Era kontemporer telah membuat planet ini kehilangan kesadaran akan lingkungannya, meyakini bahwa pembangunan manusia melalui industrialisasi, infrastruktur dan teknologi. Aspek-aspek tersebut memang telah dipastikan memenuhi beberapa kebutuhan manusia, seperti perumahan, komunikasi dan kedokteran, namun harus dipahami bahwa segala sesuatu yang kita miliki atau yang kita lihat di kota-kota industri maju, berasal dari sumber daya alam (lingkungan), oleh karena itu sedikit sumber daya tersisa yang kita miliki saat ini harus kita lestarikan, rawat dan gunakan dengan sangat hati-hati, dengan memikirkan generasi yang akan datang, iklim global dan penduduk asli yang bergantung dari hutan. Ini diperlukan agar kita hidup berdampingan dengan alam dan dapat memahami besarnya biaya yang dikeluarkan untuk kerusakan lingkungan, penting untuk terus membuat diri kita sadar, untuk lebih berkomitmen pada pendidikan lingkungan bagi planet dan kemanusiaan. “Dengan ikut serta dalam solidaritas bersama masyarakat yang tinggal di hutan berarti kita juga ikut berkolaborasi dengan lingkungan dan kemanusiaan global.”

Dalam solidaritas.

Saksikan ‘Pertemuan Kembali’, film pendek mengenai perjalanan pemuda adat ke dalam hutan untuk terhubung kembali dengan peninggalan masa lalu nenek moyang mereka.

Siapa yang terlibat