Save Seko

Masyarakat adat mengalami kriminalisasi karena melindungi tanah leluhur

Indonesia

Durasi: 12.47


Tersedia dalam 2 bahasa


Rilis: Agustus 2017

Click to play video

Meskipun pemerintah Indonesia pada tahun 2012 telah mengakui tanah adat mereka, namun masyarakat Seko selama 3 tahun terakhir ini harus mempertahankan tanah mereka dari ancaman pengembangan energi berskala besar. Pada tahun 2016, 14 pemimpin masyarakat adat termasuk salah satu diantaranya wanita, dituntut atas tuduhan menggerakkan masyarakat. Mereka dijatuhi hukuman paling sedikit 7 bulan penjara.

Mereka menentang pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) skala besar oleh PT. Seko Power Prima, yang berencana mengalihkan sungai mereka melalui terowongan berdiameter 8 meter dengan menembus perbukitan, kebun, dan lahan pertanian dusun mereka yang subur. Masyarakat mengorganisasikan diri, melakukan demonstrasi dan mempertahankan tanah mereka.

Pada 1 Agustus 2017 Amisandi dikeluarkan dari penjara, namun perlawanan masih terus berlanjut.

Partisipan

Diproduksi oleh

Zero Violence

The battle to keep forests often leads to serious and sometimes fatal conflicts. Communities should be supported in their work and community leaders should not be criminalized for defending their land and our forests.

Pelajari lebih lanjut