#SaveSeko: Sebuah Awalan

Juli 5, 2017

Languages:

Pada masa pemberontakan DI/TII persawahan di Sae di Wilayah Adat Ambalong ini ditinggalkan seiring dengan mengungsinya masyarakat Ambalong akibat adanya perang antara pasukan Kahar Muzakar dengan pasukan TNI. Mereka kembali ke kampung setelah perang selesai dan DI/TII dibubarkan. Mereka kembali membuka sawah di Sae sekitar akhir tahun 90-an karena masyarakat adat Ambalong kekurangan beras. Sebelumnya mereka terpaksa membeli beras di Seko Padang untuk memenuhi kebutuhan berasnya.

“Saya pernah ikut mobilnya Ginanjar Manager PT Seko Power Prima menyusuri wilayah adat Embalong sampai ke wilayah adat Pohoneang. Saya sampaikan bahwa tidak ada lagi lahan untuk persawahan selain di Sae. Silahkan cari jika ada. Karena ini kawasan pegunungan” kata R. Kondo Lada Tobara Ambalong. R. Kondo Lada juga menyampaikan bahwa inilah lumpungnya masyarakat adat Ambalong. “Sawah-sawah ini harga mati bagi kami. Tidak akan kami berikan kepada perusahaan untuk ditenggelamkan untuk dibangun bendungan untuk PLTA. Itu suara masyarakat adat Ambalong yang disampaikan kepada saya” ujarnya disaat sedang panen padi bersama masyarakatnya di Sae.

Badan sungai Betue di Wilayah Adat Ambalong akan menjadi lokasi PLTA PT Seko Power Prima. Perusahaan akan membendung sungai Betue di Sae untuk mengalirkan air ke Ratte melalui tiga terowongan sepanjang 18 km yang luas penampangnya masing-masing delapan meter untuk menggerakan turbin. Terowongan akan membelah bukit, pohon-pohon, tebing, ladang dan kampung.

Itulah salah satu alasan mereka menolak pembangunan PLTA. Ketika mereka menghentikan proses survey, melakukan demonstrasi, membongkar tenda pekerja dan membuang tanah dan bebatuan yang diambil oleh pekerja ke sungai, mereka diganjar dengan hukuman penjara selama 7 bulan. Mereka dianggap mengancam pekerja dan membuat pekerja menjadi ketakutan. Saat ini ada 14 warga Seko yang mendekam didalam penjara.

Temukan lebih banyak informasi tentang #SaveSeko: https://ifnotusthenwho.me/id/saveseko/

Save Seko: Wilayah Adat

Hamparan lahan persawahan bahkan hasil bumi yang melimpah di Sae adalah bagian dari masyarakat adat Ambalong. Tanah warisan leluhur yang telah memberikan sumber penghidupan secara turun temurun. Mereka sudah berusaha dan sudah membantu pemerintah agar tidak menerima raskin. Tapi saat ini pemerintah sendiri yang akan memiskinkan dan menyengsarakan masyarakat Seko dengan rencana masuknya investasi PLTA yang akan menghilangkan lumbung-lumbung pangan mereka.#SaveSekoinaturefilms.org

Posted by If Not Us Then Who on Wednesday, June 21, 2017