Save Seko

Berita dan Ulasan Tentang Kampanye Save Seko

Save Seko: Aksi Solidaritas Peduli Seko

Seko is getting the attention. Support for the community in Seko who refused the development of PLTA in its customary land continues to flow. Although until now the North Luwu regency government still insists that investment development will continue to operate.#SaveSekohttps://ifnotusthenwho.me/saveseko/

Posted by If Not Us Then Who on Thursday, July 13, 2017
Save Seko: Perjuangan Perempuan Adat Seko

When men have been in prison and are on the police wanted lists, more than 400 women in Seko are fighting to defend their customary land and refuse activity at one of PT Seko Power Prima's drilling survey points. They remain vigorously voiced their rejection of the construction of hydroelectric power plants despite intimidation and even violence from police officers. Out loud they shouted, "We Still Refuse, This Land is Not Negotiable."#SaveSekohttps://ifnotusthenwho.me/saveseko/

Posted by If Not Us Then Who on Monday, July 10, 2017
Save Seko: Wilayah Adat

Hamparan lahan persawahan bahkan hasil bumi yang melimpah di Sae adalah bagian dari masyarakat adat Ambalong. Tanah warisan leluhur yang telah memberikan sumber penghidupan secara turun temurun. Mereka sudah berusaha dan sudah membantu pemerintah agar tidak menerima raskin. Tapi saat ini pemerintah sendiri yang akan memiskinkan dan menyengsarakan masyarakat Seko dengan rencana masuknya investasi PLTA yang akan menghilangkan lumbung-lumbung pangan mereka.#SaveSekoinaturefilms.org

Posted by If Not Us Then Who on Wednesday, June 21, 2017

#SaveSeko: An Introduction

Pada masa pemberontakan DI/TII persawahan di Sae di Wilayah Adat Ambalong ini ditinggalkan seiring dengan mengungsinya masyarakat Ambalong akibat adanya perang antara pasukan Kahar Muzakar dengan pasukan TNI. Mereka kembali ke kampung setelah perang selesai dan DI/TII dibubarkan. Mereka kembali membuka sawah di Sae sekitar akhir tahun 90-an karena masyarakat adat Ambalong kekurangan beras.

Baca article selengkapnya disini

#SaveSeko: Chapter 1

Perjalanan kami ke Seko kali ini adalah untuk mendokumentasikan wilayah Seko Tengah yang sejak tiga tahun lalu hingga saat ini masyarakatnya sedang berjuang untuk mempertahankan wilayah adatnya dari rencana investasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Tidak tanggung-tanggung, respon pemerintah dan perusahaan atas penolakan masyarakat adat Seko ini adalah memasukkan 14 orang masyarakat adat Seko ke dalam penjara.

Baca article selengkapnya disini

#SaveSeko Bagian Dua: Hamparan Lembah Sae Sebuah Warisan Leluhur

Mereka sudah berusaha dan membantu pemerintah agar tidak ada pemberian raskin kepada masyarakat Seko. Tapi pemerintah sendiri yang akan memiskinkan dan menyengsarakan masyarakat Seko dengan menghilangkan lumbung-lumbung pangannya.

Baca article selengkapnya disini

#SaveSeko Bagian Tiga: Perjuangan Kaum Perempuan Seko

Lebih dari 400 perempuan menduduki Puriliang, salah satu titik survey geologi di Pokapaang yang dilakukan oleh PT Seko Prima Power. Secara bergantian selama dua bulan mereka menjaga alat-alat perusahaan agar tidak digunakan untuk mengebor tanah mereka. Ini dilakukan karena para kaum laki-laki penggerak perjuangan masyarakat Seko sudah ditahan di dalam penjara di Masamba.

Baca article selengkapnya disini

#SaveSeko Bagian Empat: Lembaga Adat Baru Yang Tidak Diakui

Menurut Musa Derita, 14 orang warga Seko yang dimasukkan ke dalam penjara adalah murni ada kepentingan politis. Mereka bersama ribuan masyarakat adat Seko sejak awal sudah menolak kehadiran perusahaan. Jika mereka tidak ditangkap, masyarakat akan tetap kuat bertahan untuk menolak kehadiran perusahaan.

Baca article selengkapnya disini