The Heartland project; pergerakan anak-anak muda untuk merestorasi hutan-hutan yang masih berdiri di Indonesia

Languages:

Ranu Welum

Hutan Indonesia adalah salah satu bentang alam terluas dan terkaya di dunia baik secara biologis dan budaya. Namun sayangnya, sejalan dengan pergerakan roda ekonomi Indonesia yang kian melesat, hutan-hutan tersebut terus mengalami kerusakan setiap tahunnya. Skala kerusakan hutan kita sangatlah besar sehingga sekarang memiliki dampak yang signifikan terhadap perubahan iklim global. Oleh alasan inilah, Youth Act Kalimantan menginisiasi pergerakan ‘The Heartland Project’ yang bertujuan untuk menggerakan anak-anak muda dari seluruh Indonesia untuk ikut menanam pohon dan merestorasi hutan-hutan yang masih tersisa di daerah mereka.

Pada tahun 2017 negara kita menduduki peringkat ketika setelah Brazil dan Republik Demokratik Kongo sebagai Negara dengan tingkat deforestasi terbesar di Dunia. Berdasarkan catatan Kementerian Kehutanan dari tahun 2000 sampai tahun 2010 Indonesia kehilangan hingga 1,2 juta hektar hutan alam setiap tahun atau dua kali luas Jakarta. Faktor terbesar penggerak deforestasi di Indonesia adalah alih fungsi hutan menjadi perkebunan, penebangan liar, kebakaran hutan serta eksploitasi hutan secara tidak lestari untuk pembangunan pemukiman dan industri. (1)

Hilangnya jutaan hektar hutan Indonesia tentunya memiliki dampak yang besar baik secara ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan. Banyak fauna dan flora unik yang hanya bisa ditemukan di hutan-hutan Indonesia terancam punah. Masyarakat lokal yang menggantungkan hidupnya dari hasil hutan juga semakin tak berdaya. Dampak negatif dari kerusakan hutan Indonesia bukan hanya dirasakan oleh masyarakat Indonesia saja tetapi juga masyarakat seluruh Dunia. Hal ini karena deforestasi yang bersifat massive ini melepaskan emisi karbon yang sangat besar. Padahal jika hutan terpelihara dengan baik maka dapat menjadi kunci mengatasi masalah pemanasan global dan perubahan iklim yang kini mengancam kita.

Jika kita terus berdiam diri dan tidak melakukan apapun dengan kondisi ini maka puluhan tahun dari sekarang kita mungkin akan kehilangan seluruh hutan kita. Semua orang perlu ambil bagian menjadi solusi atas masalah ini khususnya anak-anak muda yang mempunyai kekuatan besar sebagai katalis perubahan. Oleh karena itu, Youth Act mengajak anak-anak muda dari seluruh pelosok Indonesia untuk ikut untuk terlibat memulihkan hutan Indonesia yang merupakan paru-paru dunia melalui HEARTLAND PROJECT. Terdapat 1.188 orang yang bergabung dalam gerakan ini untuk menamam 2.535 pohon di rumah, sekolah dan komunitas mereka. Di Kalimantan, anak-anak muda tersebut bahkan bergerak lebih jauh dengan menanam pohon di lahan bekas tambang batu bara dan lahan terbakar.

Kaum Muda berasal dari:
Mentawai, Padang, Central Kalimantan, West Kalimantan, East Kalimantan. North Kalimantan, South Kalimantan, Malang, Bali, East Nusa Tenggara, Yogyakarta, Central Sulawesi, Lombok, Jember and Papua.

Ada 24 sekolah, komunitas lokal dan organisasi yang terlibat dalam proyek ini, termasuk Payung Literasi Palangka Raya, Nathan Indonesia, Sakolah Adat Arus Kualan, Mapala Sylva Raya, Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat, Barendeng Manulis, MountainFMP (Papua), Lisaran Onet, Mahasiswa IAIN Palangka Raya, Sebangau Ranger, Mapala Dozer, Komunitas Engkaras, Berugak Pinter Kekeri, Tropica Adventure Nusantara, Masyarakat Adat Gunung Karasik, Masyarakat Adat Tamiang Layang, Yayasan Budaya Mentawai, Rimbawan Muda Universitas Palangka Raya, SMKN 5 Jember, SMAN 2 Palangka Raya, SMPN 5 Mantangai, SMKN 2 Mantangai, Sanggar Mentuwi Dayak Kantu’k, and Forum Pemuda Kalimantan Tengah.

The heartland project merupakan aksi solidaritas kolektif dalam pergerakan orang-orang muda secara global untuk Climate Action. Project akan dimulai pada tanggal 21-23 Juni bertepatan dengan Climate Strike #FridaysForFuture Week 44 di 131 negara, dan juga Global Landscape Forum di Bonn, Jerman. Kampanye kita akan melingkupi beberapa hal berikut:

1. Penanaman Pohon
2. Climate Strike (medsos dan di jalan/ruang publik)
3. Solidarity (photo, tagging and hashtag)
4. Video streaming

Gerakan ini menunjukkan bahwa kami, anak-anak muda Indonesia sadar akan perubahan iklim dan deforestasi di Indonesia – dan bangga telah mengambil tindakan.