Menjadi Residensi dan sebuah harapan baru
oleh Pinarsita Juliana
Untuk kebanyakan orang, menjadi residensi adalah peluang untuk mengembangkan diri. Namun, bagi yang hampir menyerah, ini adalah sebuah harapan baru.

Ini adalah bagian pertama dari seri blog oleh Pinarsita yang menceritakan pengalamannya dalam program Residensi Indonesia bersamaIf Not Us Then Who?
Pinarsita Juliana, seorang Dayak Ngaju & Batak dari Kalimantan Tengah, aktivis lingkungan & pembela hak Masyarakat Adat— salah satu residen di Residensi Indonesia oleh If Not Us Then Who?, sebuah program imersif yang menawarkan sumber daya, bimbingan, dan platform bagi seniman tingkat lanjut untuk memperkuat narasi lokal. Yang menggunakan cerita dokumenter dan pekerjaannya dengan Save Our Borneo untuk menyuarakan suara Masyarakat Adat.
Karyanya berfokus pada perlawanan masyarakat terhadap deforestasi dan industri ekstraktif, mendorong perubahan sosial dan lingkungan melalui media yang etis dan berpusat pada komunitas.

Selain hujan, Bogor tampak berbeda. Meski diguyur gerimis, malam itu kedatanganku di Bogor disambut hiruk-pikuk kendaraan. Macet di akhir pekan tampaknya sudah jadi wisata di sana.
Tapi aku suka hawa dingin kota ini. Kalimantan Tengah panas.
Ketika aku terpanggil berkontribusi untuk Kalimantan Tengah, harusnya tidak perlu ada yang mempertanyakan jati diriku kan?
Aku tinggal di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Namaku Pinarsita Juliana, perpaduan dua suku dari dua pulau berbeda, Batak dan Dayak Ngaju. Orang tuaku bilang nama Pinarsita diberikan oleh opung atau kakekku berarti yang diharapkan atau yang dinanti-nantikan. Memang di keluarga, aku satu-satunya anak perempuan dan terakhir dari tiga bersaudara.

Berdarah campuran awalnya sempat membuatku tidak percaya diri.
“Imitasi nih, gak jelas. Mewakili masyarakat adat yang mana kamu?”
Awal bekerja di akar rumput, dulu beberapa teman bilang begini. Meski mungkin maksudnya bercanda, tapi karena sering dilontarkan membuatku kepikiran juga. Aku masyarakat adat atau bukan?

Namun, seiring berjalannya waktu aku belajar. Aku punya hak memilih, determinasi diri sebagai apa dan siapa. Aku memang lahir di tanah Kalimantan, setengah darahku Dayak Ngaju, dekat dengan budaya ibuku. Maka ketika aku terpanggil berkontribusi untuk Kalimantan Tengah, harusnya tidak perlu ada yang mempertanyakan jati diriku kan?
Perjalanan ke Bogor dan harapan baru

Aku ke Bogor untuk jadi salah satu residen di program If Not Us Then Who. Jujur saja, sebelumnya aku bahkan tidak tahu ini apa. Suatu hari aku dihubungi lewat aplikasi pesan yang menawarkanku untuk mendaftar. Ia bilang aku direkomendasikan. Ada perasaan senang tapi juga khawatir di waktu bersamaan.
Aku punya sedikit masalah kurang lebih satu tahun sebelum tawaran ini datang. Aku tidak lagi membuat film. Mungkin beberapa video saja untuk kepentingan pekerjaan sebagai pengkampanye.
Ada berbagai alasan. Lelah mental salah satunya. Bekerja di non-government organization (NGO) lokal, sudah bertahun-tahun melihat masalah di akar rumput. Berbagai macam upaya sudah dicoba, advokasi dan kampanye, tetapi hidup sebagai WNI membuat semuanya tidak mudah.
Aku melihat bagaimana masyarakat berkonflik dengan perusahaan besar dan pemerintahnya sendiri. Aku melihat bagaimana hukum memenjarakan masyarakat yang menuntut keadilan, bahkan harus berujung kematian dalam masa mendekam di penjara. Aku melihat hutan yang digunduli. Aku melihat perempuan adat yang menangisi hutannya karena diganti sawit atau pun lubang tambang. Aku banyak melihat dan menyuarakan melalui dokumentasi.
Harapannya akan ada perubahan. Namun, seringkali masih berujung patah hati.
Aku jadi meragukan kemampuanku dalam menyampaikan cerita dan fakta yang didokumentasikan. Apakah pesan di film atau videonya tidak berhasil tersampaikan dengan baik? Apakah aku pencerita yang buruk? Mungkin audio visual tidak cocok untuk ku atau kreatifitasku memang sudah mati. Karena itu, satu tahun aku menarik diri.
Untuk kebanyakan orang, menjadi residensi adalah peluang untuk mengembangkan diri. Namun, bagi yang hampir menyerah, ini adalah sebuah harapan baru.
Lebih dari Sekadar Teknik: Belajar Merangkai Cerita

Di Bogor aku bertemu orang-orang baru. Bahkan, salah satu mentornya Nanang Sujana, hanya ku kenal namanya selama ini, tetapi tak pernah bertemu secara langsung. Ada juga mentor lain, Fadli namanya, aku pun tak kenal.

Peserta residensinya hanya sepuluh orang. Masing-masing berasal dari daerah dan suku berbeda-beda. Ada yang dari Lombok, Kalimantan Timur, Papua, Manado, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Sukunya pun ada yang dari Sasak, Batak, Dayak, Toraja, Minahasa, dan beberapa lagi aku lupa. Memang hanya sedikit, tapi seperti gambaran kecil Indonesia.

Mereka tampak sudah saling kenal. Aku merasa asing sendiri pada awalnya. Namun, suasana belajar yang santai membuat prosesnya mengalir begitu saja.

Aku senang di kelas-kelas residensi ini tak hanya bicara tentang teknik, tetapi juga kualitas cerita. Story Telling lebih ditekankan.
Aku ingat kami diberitahu setidaknya ada empat unsur C yang penting dalam membangun cerita. Pertama, Conflict untuk menunjukkan bahwa masalahnya ada. Cause untuk menunjukkan siapa atau apa yang bertanggung jawab atas masalah yang ada. Cure adalah bagaimana masalah yang ada itu bisa diselesaikan. Terakhir, Consequence untuk menggambarkan hasil positif atau efek lain yang ditimbulkan saat masalah coba diselesaikan.
Aku jadi ingat beberapa waktu lalu, saat menulis buku juga ditantang hal yang sama dengan mentorku. “Apa solusi yang kamu tawarkan?” tanyanya. Hal yang sama ternyata juga ditanyakan dalam film.
Selain itu, ada kata yang kuingat dan mengusik. Hope atau harapan. Nanang Sudjana bilang harus ada Hope dalam film. Tapi bagaimana orang yang hampir kehilangan harapan bisa memberikan harapan dalam filmnya?
Pada akhirnya, residensi ini memaksaku untuk kembali bangun, sadar, dan mencobanya lagi. Cure dan Hope.
Tampaknya selama ini karyaku masih terjebak pada harapan kosong. Mungkin tidak salah. Terkadang fakta di lapangan begitu. Hanya jika ingin memberikan dampak, harusnya ada solusi juga dalam harapan. Jika kita berharap, maka apa harapannya dan bagaimana pastinya kita dapat mewujudkannya.
Jujur saja ada perasaan gugup dan takut saat diminta membuat film lagi. Tapi ketakutan harus dihadapi bukan?
Pulang dengan Cerita, Berjalan dengan Harapan.


Pulang dari Bogor, aku ceritakan ke teman-temanku di Save Our Borneo, NGO tempatku bekerja bahwa aku akan membuat film. Judulnya “Rayah.” Aku mendapat dukungan, kami akan bekerja dalam tim untuk film ini.
Meski begitu, aku tidak berani berekspektasi akan jadi seperti apa film kami. Peralatan kami belum professional, skill kami juga. Tetapi kami punya cerita dan keresahan yang sama dengan masyarakat yang kami dampingi.
Selanjutnya, proses produksi yang menanti. Harapanku tidak muluk-muluk, semoga hasil akhirnya benar-benar bisa menjadi perpanjangan suara dan cerita masyarakat adat di akar rumput.
Ikuti perjalanan Pinarsita Juliana dalam melindungi alam & menyuarakan hak-hak masyarakat Adat.

Pinarsita Juliana
Indonesia | Dayak Ngaju – Batak
Sutradara, manajer Advokasi dan Kampanye di Save Our Borneo
Follow Pinarsita: Instagram
For press moments, speaking opportunities & other inquiries please contact: [email protected]