Skip to main content

Storytellers for Change: Featuring Pinarsita Juliana Chapter II (Bahasa Indonesia)

Pinarsita & her team with Maladi and his family in the forest

Belajar dari Kubung

by Pinarsita Juliana

Hidup sebagai masyarakat adat itu berat. Mereka harus beradaptasi, tetapi tak pernah diberi proteksi.

Pinarsita dengan alat perekam suara di ladang pak Maladi

Pada bagian kedua ini, Pinarsita berbagi kisah perjalanannya dalam pembuatan Rayah, sebuah film dokumenter yang mengikuti masyarakat adat Dayak Tomun dalam menghadapi perubahan pesat yang dibawa oleh modernisasi. Melalui percakapan dengan seorang anggota masyarakat dan seniman R.K. Maladi, film ini mengeksplorasi ketegangan antara kemajuan dan pelestarian.


Menguatkan Suara Masyarakat Adat Melalui Dokumenter dan Perlawanan

Pinarsita Juliana, seorang Dayak Ngaju & Batak asal Kalimantan Tengah, merupakan aktivis lingkungan dan hak-hak masyarakat adat yang menjadi bagian dari Residency Indonesia oleh If Not Us Then Who?—sebuah program imersif yang menyediakan sumber daya, pendampingan, dan platform bagi para seniman untuk memperkuat narasi lokal. Ia menggunakan storytelling dokumenter dan pekerjaannya bersama Save Our Borneo untuk mengangkat suara masyarakat adat. Karyanya berfokus pada perjuangan komunitas melawan deforestasi dan industri ekstraktif, serta mendorong perubahan sosial dan lingkungan melalui media yang etis dan berpusat pada komunitas.


Hidup sebagai masyarakat adat itu berat. Mereka harus beradaptasi, tetapi tak pernah diberi proteksi

Perjalanan ke Kabupaten Lamandau selalu panjang. Dari Palangka Raya, pusat kotanya Kalimantan Tengah, setidaknya butuh sepuluh sampai sebelas jam untuk tiba di ibu kota Kabupatennya, Nangabulik.

Kalau fisik sedang oke, biasanya kami akan langsung lanjut tak peduli jam berapa pun, ke desa Kubung di Kecamatan Delang yang berjarak sekitar empat jam lagi. Namun, kali ini kami memilih bermalam semalam di Nangabulik.

Kedua rekanku puasa, kebetulan baru berjalan sekitar empat hari saat kami melakukan perjalanan. Mereka masih butuh adaptasi. Beberapa tahun bekerja di Save Our Borneo, aku satu-satunya non-muslim. Aku paham ritmenya, kami saling bertoleransi.

Rasanya hanya memejamkan mata sesaat, hari sudah pagi dan perjalanan kami berlanjut. Jalanan meliuk-liuk, naik-turun, bak ular tangga, membuat isi perut bergejolak. Di tambah jalan-jalan aspal yang tambal-sulam di sana-sini sampai jalanan rusak parah mengguncang seisi mobil. Sejak pertama kali sampai hari ini, jalan ke desa paling ujung di Kecamatan Delang ini tak pernah benar-benar mulus.

Perjalanan ke Kubung bukan hanya soal jarak, tapi tentang memahami siapa yang terus dipaksa beradaptasi tanpa perlindungan

Namun, ada hal baru di desa Kubung. Listrik sudah masuk sekitar dua minggu saat kami tiba. Meski, sebelumnya masyarakat harus menunggu sekitar dua tahun dengan keadaan tiang-tiang listrik dan kabel malang melintang terpasang, tetapi tak memiliki daya.

Warung-warung kecil sudah ada beberapa dengan lemari pendingin. Tentu es batu bukan barang langka lagi sekarang.

Bahkan, internet pun ada. Tapi bukan bantuan dari pemerintah, ini usaha perorangan. Kuotanya harus beli. Ada yang berlaku selama 3-5 jam, 12 jam, hingga paket seminggu. Jangan berharap jangkauannya luas. Sinyal internet tak akan sampai ke ladang, hanya di sekitar rumah si penjual kuota. Jadi harus pintar-pintar mencari posisi nongkrong jika mau dapat jaringan kuat.

Sekarang, belanja bisa online. Kurir paket dari provinsi tetangga, Kalimantan Barat, sudah langganan masuk ke desa. Bahkan, beli token listrik pun online.

Masyarakat adat tampak cepat sekali beradaptasi. Anehnya, aku merasa asing.

Listrik akhirnya datang, tapi perubahan selalu membawa pertanyaan: apa yang ikut hilang?

Portrait of R.K. Maladi at his hut in the forest

Kami menginap di rumah R.K Maladi selama di desa Kubung. Ia pemeran utama film ‘Rayah’ yang kami buat. Bapak dari dua putra yang sekarang sama-sama sedang kuliah di pulau Jawa.

Ia sering bilang dengan bangga kepada kami jika anak-anaknya bisa sampai ke sekolah tinggi walau tanpa sawit.

“Ini uang dari jual jengkol saja,” katanya sambil tertawa.

Belakangan, memang banyak desa di Kalimantan Tengah berbondong-bondong menanam sawit. Harga sawit dianggap lebih stabil dari pada hasil alam yang lain. Walau biaya perawatannya dikeluhkan lebih mahal. Namun, faktanya masyarakat adat dipaksa beradaptasi dengan tanaman asing ini.

“Aku sampai mencoba menanam sawit juga di ladang sedikit, hanya untuk tahu tanaman ini bagaimana sih tumbuhnya, perawatan, dan hasilnya. Kalau bagiku ini gak sepadan, lebih menguntungkan berladang padi, tanam jengkol, dan pelihara babi,” kata Maladi.

Menurutnya, berkebun sawit itu butuh duit. Baginya yang seorang guru sekolah dasar dan seniman di desa, sawit terlalu mahal. Di samping itu, Maladi bilang masyarakat adat yang berpindah menanam sawit sebenarnya karena masifnya kampanye di desa yang bilang kalau menanam sawit lebih menguntungkan. “

Padahal tanpa tanam sawit, kami masih bisa hidup,” katanya.

Benar saja, di ladang Maladi kami melihat ada tanaman sawit di sela-sela tanaman padinya. Sawit itu kerdil, karena memang tak lagi dirawatnya. Alasan masih dipertahankan, hanya karena umbut sawit yang bisa diambil sebagai sayur.

Kami tidak kekurangan cara hidup, kami hanya dipaksa mengganti cara hidup

Jalan ke ladang juga bak olahraga. Jalannya menanjak karena daerah bukit. Masih tanah kuning-jingga. Kami berangkat tengah hari, selepas mengambil gambar Maladi mengajar berayah, melantunkan kata-kata syair atau pantun, ke murid-muridnya di sekolah.

Anak-anak babi peliharaannya langsung menyambut kami. Ada yang berwarna hitam dan putih. Mereka bebas berlarian, bermain ke sana kemari, sesekali mengendus-endus kami penasaran.

Pondok kayu sederhananya tempat kami melepas penat. Otot kaki yang kencang butuh peregangan. Secangkir kopi menemani obrolan kami sambil menunggu panas matahari sedikit mereda supaya bisa melanjutkan pengambilan gambar aktivitas Maladi dan keluarganya di ladang.

Pinarsita & her team with Maladi and his family in the forest

Kedua rekanku harus batal puasa hari itu. Kombinasi panas yang gila dan jalanan menanjak, tak sanggup disandang.

Maladi sudah beradaptasi. Bagi masyarakat yang mayoritas peladang, panas matahari adalah berkah agar hasil ladang melimpah. Kalau terlalu sering hujan, justru hasil padi tak bisa maksimal.

Kalau dipikir-pikir, bagi kami panas terik ini juga menguntungkan. Meski wajah meringis dan mulut mengeluh, tapi panasnya cuaca membuat kami bisa menyelesaikan pengambilan gambar hari itu.

Namun, Maladi mengakui beberapa tahun belakangan ini, cuaca seringkali ekstrem.

“Dulu kalau musim angin ya berangin saja, tetapi sekarang angin itu kencang sekali. Seperti gak ada yang menahannya. Mungkin pengaruh hutan sudah banyak dibuka,” ceritanya.

Baginya, situasi alam dan masyarakat adat, keduanya sama terancam. Deforestasi menghantui hutan dan wilayah adat, sementara masyarakat adat masih harus terus berjuang untuk dapat pengakuan dari Negara.

Pekerjaan ini jadi berat. Selain menjaga alamnya, mereka dipaksa terus beradaptasi dengan perubahan zaman dan hidup.

Bagi Maladi, listrik dan kemajuan di desa menggembirakan. Namun di lain sisi, ia juga takut jika perubahan ini menghilangkan jati diri mereka sebagai masyarakat adat.

“Sama seperti dengan rayah. Saya juga khawatir budaya dan adat kami lainnya berangsur-angsur hilang. Sementara keberadaan kami saja tak kunjung diakui Negara. Lalu, nanti semuanya tinggal cerita saja,” kata Maladi.

Bagiku ini ironi. Di satu sisi keberadaan masyarakat adat diagung-agungkan sebagai penjaga alam. Seringkali tari-tarian dan ritual adat digunakan dalam acara-acara resmi. Namun, sejauh ini ternyata mereka hanya jadi obyek.

Cerita Dayak Tomun di desa Kubung hanya satu dari sekian banyak polemik yang dihadapi masyarakat adat. Bukan lagi hal baru sebenarnya.

Masyarakat adat sering dipuji sebagai penjaga alam, tapi jarang benar-benar dilindungi.

Ini salah satu hal yang sempat membuatku hilang rasa. Bergulat dengan masalah yang sama, hanya beda rasa, bentuk, dan waktu.

 Lalu, apalagi yang bisa kita lakukan sekarang dipaksa terus berjuang?

 Maladi bilang selama masih ada cara, apa pun akan dia coba. Aku pun sepakat. Karena itu, bagi kami film ini adalah satu harapan. Upaya kami untuk terus berjuang.

 Itulah mengapa aku jadi semakin gugup.

Ikuti perjalanan Pinarsita Juliana dalam melindungi alam & menyuarakan hak-hak masyarakat Adat.


Pelajari lebih lanjut tentang Program Residensi

Program Residensi untuk Narasi Baru dari Masyarakat Adat, Keturunan Afrika, dan Komunitas Lokal adalah inisiatif dinamis yang diciptakan oleh If Not Us Then Who? (INUTW).

Program residensi ini menawarkan langkah selanjutnya yang berharga bagi para pembuat film dan fotografer yang berada pada tahap yang lebih maju dalam perjalanan profesional mereka, yang ingin memperdalam ekspresi artistik dan penceritaan mereka.


Follow Pinarsita: Instagram

For press moments, speaking opportunities & other inquiries please contact: [email protected]